ww.narrativetimes.com.ǁJawa Barat,2 Mei 2026-Pergerakan jamaah haji dari Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati pada musim haji 2026 menunjukkan angka yang cukup besar.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan bahwa jumlah rombongan yang diberangkatkan mencapai puluhan kelompok terbang.
“Tahun ini ada 40 kloter, sekitar 17.700 jamaah haji yang berangkat dari Kertajati,” ujar Dahnil saat melakukan peninjauan, Jumat (1/5/2026).
Ia menerangkan, sebagian besar calon jamaah yang memulai perjalanan dari Kertajati berasal dari wilayah Jawa Barat. Kondisi ini dinilai menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pemerintah, khususnya dalam memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga.
Menurutnya, tingginya dominasi jamaah dari daerah tersebut menuntut kesiapan layanan yang tidak setengah-setengah.
“Oleh sebab itu tentu pelayanan di Kertajati harus maksimal,” katanya.
Lebih lanjut, Dahnil menyampaikan bahwa saat ini Bandara Kertajati difokuskan sebagai fasilitas khusus untuk keberangkatan ibadah haji. Fungsi ini bersifat sementara, namun memiliki peran strategis dalam mendukung kelancaran proses pemberangkatan.
“Karena Kertajati hanya digunakan sementara ini untuk terminal haji,” ucapnya.
Dengan jumlah jamaah yang cukup besar dan mayoritas berasal dari Jawa Barat, seluruh elemen yang terlibat diminta untuk memberikan pelayanan terbaik. Ia menekankan pentingnya koordinasi di lapangan agar kebutuhan jamaah dapat terpenuhi secara optimal.
Dorongan tersebut juga telah disampaikan langsung kepada para petugas yang bertugas di lokasi, agar mampu meningkatkan kualitas layanan selama proses keberangkatan berlangsung.
“Kami menyampaikan kepada teman-teman di lapangan supaya memaksimalkan pelayanan kepada jamaah haji, mayoritas dari Jawa Barat,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dahnil juga memaparkan adanya perubahan skema layanan bagi jamaah haji prioritas pada musim haji tahun ini. Hal tersebut ia sampaikan saat melakukan kunjungan kerja di Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati, Majalengka.
Pemerintah, kata dia, memberikan perhatian lebih kepada kelompok jamaah tertentu yang masuk kategori prioritas. Mereka terdiri dari lanjut usia, penyandang disabilitas, serta jamaah yang membutuhkan kursi roda.
“Secara spesifik kita ada jamaah prioritas. Pertama lansia, kemudian yang difabel. Mereka mendapat fasilitas bisnis,” tuturnya.
Ia menjelaskan, penempatan jamaah prioritas dilakukan di kursi kelas bisnis sebagai upaya meningkatkan kenyamanan selama perjalanan udara berlangsung.
“Yang difabel dan lansia, yang kursi roda itu mereka duduk di fasilitas bisnis,” katanya.
Selain penyesuaian pada fasilitas tempat duduk, pola penempatan petugas pendamping juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya petugas berada di area kelas bisnis, kini mereka diarahkan untuk berada di bagian belakang bersama jamaah lainnya.
Langkah tersebut diambil untuk memperkuat pendampingan secara langsung, terutama bagi jamaah yang memerlukan perhatian lebih selama proses keberangkatan.
“Kalau sebelumnya ada petugas di bisnis, sekarang petugas disebar di belakang bersama jamaah,” ucapnya.
