ww.narrativetimes.com.ǁJawaBarat,31 Agustus 2026-Sejumlah pejalan kaki mengeluhkan kondisi trotoar di Jalan Sentot Aliansyah-Suparapati atau kawasan Gasibu, Kota Bandung, Jawa Barat, yang terlalu tinggi hingga menyulitkan untuk dinaiki.
Perbedaan ketinggian yang relatif jauh, membuat akses menuju trotoar terasa tidak nyaman, terutama bagi warga lanjut usia dan mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Pantauan, Senin 31 Agustus 2026, trotoar di kawasan tersebut tampak memiliki ketinggian yang mencapai lutut orang dewasa.
Tidak terdapat undakan bertahap pada sejumlah bagian, sehingga pejalan kaki harus menaiki trotoar dengan satu langkah cukup tinggi dari permukaan jalan.
Kondisi itu terlihat menyulitkan dua orang pejalan kaki yang hendak naik ke trotoar. Keduanya tampak harus mengangkat kaki cukup tinggi sebelum akhirnya berhasil mencapai permukaan trotoar.
Bima (33) seorang pejalan kaki mengatakan, kondisi tersebut cukup merepotkan, terlebih ketika harus membawa barang atau berjalan bersama anak.
“Kalau tingginya seperti ini memang agak susah naiknya. Harus hati-hati supaya tidak tersandung atau jatuh,” ujar Bima, Senin (31/8/2026).
Bayu (34), warga lainnya juga berharap pemerintah membuat akses naik-turun yang lebih landai, sehingga trotoar bisa digunakan seluruh pejalan kaki.
“Kalau ada undakan akan lebih mudah. Jangan langsung tinggi seperti ini dari jalan,” ujar Bayu.
Menanggapi keluhan tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku telah mengetahui kondisi tersebut dan diakui memang terlalu tinggi.
“Saya melihat memang terlalu tinggi dan saya sudah meminta Kepala PU (DBMPR) untuk melakukan evaluasi dengan membuat undakan,” ujar Dedi.
Menurutnya, akses menuju trotoar nantinya perlu dibuat bertahap agar pejalan kaki tidak langsung berhadapan dengan perbedaan ketinggian yang cukup jauh dari badan jalan.
“Sehingga naiknya ada trap-nya (undakan), tidak langsung dari jalan raya ke trotoar,” katanya.
Dedi juga meminta agar disediakan jalur khusus bagi penyandang disabilitas. Dedi menegaskan fungsi utama trotoar adalah untuk pejalan kaki.
“Dan dibuatkan jalur untuk penyandang disabilitas dengan satu catatan bahwa trotoar itu untuk pejalan kaki, bukan untuk pedagang, bukan untuk pemotor maupun pesepeda,” ucapnya.
Dedi menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan warga dan memastikan kondisi trotoar tersebut akan dievaluasi.
