Disperindag Jabar Perkuat Resi Gudang, Petani Kopi, Teh, dan Kakao Tak Perlu Jual Saat Harga Murah

www.narrativetimes.com.ǁJawa Barat,13 Juni 2026-Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, memperkuat implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) untuk mendukung petani kopi, teh, dan kakao agar tidak lagi terpaksa menjual hasil panen, saat harga komoditas sedang rendah.

Penguatan SRG tersebut, diluncurkan dalam ajang West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) bertajuk The Golden Bean of Java: Coffee, Tea and Cacao for the Future di Summarecon Mall Bandung, Jumat (12/6/2026).

Kepala Disperindag Jabar, Nining Yuliastiani, mengatakan SRG menjadi bagian dari upaya pemerintah menjembatani kebutuhan pelaku usaha, khususnya petani skala kecil, agar mendapatkan akses penyimpanan, pembiayaan, hingga pemasaran yang lebih baik.

Menurutnya, selama ini banyak petani kopi dan teh yang langsung menjual hasil panennya, karena tidak memiliki fasilitas penyimpanan. Kondisi tersebut, membuat petani sulit menunda penjualan ketika harga komoditas sedang rendah.

Melalui SRG, petani dapat menyimpan hasil panennya di gudang terakreditasi yang telah memenuhi standar dan mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

“Petani tidak harus menjual hasil panennya saat harga sedang murah. Komoditas bisa disimpan di gudang terstandarisasi dengan kualitas dan kuantitas yang tetap terjaga,” ujar Nining.

Nining menjelaskan, resi atau bukti penyimpanan yang diterbitkan dari gudang tersebut, dapat digunakan sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan.

Dengan skema itu, petani tetap memiliki akses modal usaha tanpa harus melepas komoditasnya dalam kondisi harga yang belum menguntungkan.

“Ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok karena komoditas dapat terkumpul dalam jumlah besar dan memiliki kualitas yang lebih terjaga,” katanya.

Selain menguntungkan petani, Disperindag Jabar menilai SRG juga dapat memperkuat rantai pasok komoditas perkebunan. Produk kopi, teh, maupun kakao yang terkumpul dalam jumlah besar dinilai akan lebih mudah dipasarkan kepada pembeli domestik maupun internasional.

Menurut Nining, konsolidasi komoditas melalui gudang terakreditasi memungkinkan pelaku usaha memenuhi kebutuhan pasar dalam volume yang lebih besar, sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui proses pengolahan.

Disperindag Jabar saat ini juga terus mendorong pengembangan gudang SRG yang dikelola pihak swasta, koperasi maupun pemerintah kabupaten dan kota agar memenuhi standar yang ditetapkan Bappebti.

“Kami mendorong agar standarisasi gudang bisa tercapai sehingga fasilitas SRG dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani dan pelaku usaha,” katanya.