www.hukumnasional.com.ǁJawa Barat,21 September 2026-BMKG memprakirakan sepekan ke depan sebagian wilayah di Jawa Barat akan turun hujan.
Sepekan ke depan indeks Nino 3.4 berkisar pada nilai +2.51, kelembapan udara pada lapisan 850-700 mb berada pada kisaran 40-95 persen yang menunjukkan peningkatan dari pekan sebelumnya.
Anomali suhu muka laut berada pada -3.0 sampai dengan +3.5 ⁰C dengan labilitas atmosfer yang bervariasi pada kategori ringan sampai sedang, sehingga menaikkan peluang beberapa wilayah terjadi hujan lokal.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi menyampaikan secara umum curah hujan di Jabar masih cenderung rendah.
Namun potensi hujan dengan intensitas ringan masih diprakirakan terjadi secara lokal di sebagian wilayah Jabar.
“Potensi hujan dengan intensitas sedang disertai petir dan angin kencang pada skala lokal dan durasi singkat bakal terjadi di sebagian wilayah,” ujarnya, Senin (21/9/2026).
Wilayah-wilayah itu di antaranya Kabupaten Bogor, Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi (Senin 21 September 2026).
- Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi (Selasa 22 September 2026).
- Kabupaten dan kota Bogor, kabupaten Sukabumi (Rabu 23 September 2026).
- Karawang dan Purwakarta (Kamis 24 September 2026).
- Purwakarta, Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Bandung Barat (Jumat 25 September 2026).
Selanjutnya, dia mengimbau masyarakat maupun instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, dan potensi peningkatan titik panas yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan.
“Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menggunakan air bersih, menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, serta menjaga kesehatan tubuh dari paparan debu serta suhu panas ekstrem,” katanya
BMKG juga melakukan operasi modifikasi cuaca atau OMC di sebagian wilayah Jawa Barat sejak Jumat (18/9/2026) hingga Selasa (22/9/2026).
Supervisor Operasi Modifikasi Cuaca BMKG dari Kedeputian Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Bayu Prayoga menjelaskan bahwa OMC yang dilakukan di sebagian wilayah Jabar ini memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang secara alami tersedia di wilayah itu.
Dia menegaskan, operasi ini tujuannya mengoptimalkan awan yang ada agar bisa menghasilkan hujan di area-area yang menjadi prioritas operasi.
“Hujan yang dihasilkan diharapkan bisa membantu menambahkan pasokan air pada aliran sungai maupun waduk-waduk strategis, seperti Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, sehingga dapat mendukung ketersediaan air baku selama musim kemarau,” katanya saat dihubungi, Minggu (20/9/2026).
Kemudian, Bayu mengatakan untuk lokasi penyemaian awan, pihaknya mengoptimalkan ketersediaan awan yang tumbuh di sekitar waduk-waduk tadi untuk menjadi hujan.
“Untuk keberhasilan, Alhamdulillah dalam dua hari ini hujan terjadi di area-area waduk itu. Semoga dapat menjadi tambahan volume air di waduk-waduk itu,” katanya.
Adapun tantangan utama dalam kondisi musim kemarau seperti ini untuk melakukan OMC, kata Bayu, ialah ketersediaan potensi awannya. Pasalnya, modalitas utama OMC itu ketersediaan awan potensial untuk disemai, sehingga menjadi hujan.
“Untuk musim kemarau seperti sekarang, OMC memanfaatkan peluang-peluang hujan di beberapa periode yang memungkinkan agar hujannya dapat optimal menjadi tambahan air di waduk-waduk tersebut, guna dimanfaatkan sebagai kebutuhan air,” ujarnya.
