ww.narrativetimes.com.ǁJawa Barat,15 Januari 2026-Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hippatas) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya segera mencarikan solusi atas kondisi memprihatinkan di Pasar Cikurubuk.
Banyaknya pedagang pakaian dan sandal yang tutup permanen menjadi sinyal darurat bagi ekonomi pasar tradisional terbesar di Kota Tasikmalaya ini.
Retribusi Naik di Tengah Sepinya Pembeli
Ketua Hippatas, H. Ahmad Jahid, mengungkapkan bahwa beban pedagang semakin berat karena kenaikan retribusi yang tidak dibarengi dengan peningkatan fasilitas.
Kondisi ini memaksa para pedagang menyerah dan menutup tempat usaha mereka.
“Sudah banyak pedagang sandal dan pakaian tutup karena jualannya sepi. Mereka memilih tutup daripada terus dibebani biaya retribusi yang selalu naik,” tegas Ahmad Jahid, Kamis (15/1/2026).
Blok B2 Jadi Wilayah Paling Terdampak
Menurut pantauan Hippatas, tren penutupan kios ini sudah terjadi sejak tiga tahun lalu dan semakin parah di awal tahun 2026.
Blok B2, yang mayoritas menjual pakaian dan alas kaki, menjadi area yang paling banyak ditinggalkan pedagang.
“Ada yang sudah setahun tutup, ada yang baru beberapa bulan kemarin.”
“Terutama di Blok B2, mayoritas sudah tidak beroperasi lagi,” jelasnya.
Desak Langkah Konkret dari Pemkot Tasikmalaya
Ahmad Jahid mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Indag dan Pemkot Tasikmalaya, namun hingga kini belum ada langkah nyata.
Ia menekankan bahwa pedagang butuh strategi untuk menarik pengunjung masuk kembali ke dalam pasar, bukan sekadar penarikan tarif.
“Hadirnya Pemkot seharusnya memberikan solusi, bukan menambah beban kenaikan tarif.”
“Kami ingin pasar kembali ramai, pembeli masuk ke area dalam pasar, bukan hanya di luar,” pungkasnya.
