www.narrativetimes.com.ǁJawa Barat,27 Juni 2026-Harga telur ayam di pasar tradisional di Kota Bandung mengalami penurunan beberapa pekan terakhir.
Dari pantauan Tribunjabar.id di Pasar Kosambi yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Sumur Bandung, Kota Bandung, saat ini harga telur ayam dijual sekitar Rp25.000 per kilogram, turun dari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram.
Pedagang telur di Pasar Kosambi, Eeng Efendi (53), mengatakan turunnya harga dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya karena penyerapan telur oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti sementara.
Di sisi lain, permintaan pasar juga sedang lesu sehingga stok telur melimpah.
“Harganya sekarang Rp25 ribu per kilo. Turun. Salah satu faktornya karena MBG tidak bisa menyerap terus, ditambah pasarnya lagi sepi. Jadi stok dari peternak melimpah,” kata Eeng, Sabtu (27/6/2026).
Ia mengatakan telur yang dijualnya berasal dari wilayah Jawa Barat, termasuk daerah sekitar Bandung.
Meski begitu, pasokan diperoleh melalui agen di Bandung.
Menurutnya, saat program MBG masih berjalan, harga telur sempat bertahan di kisaran Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram.
Bahkan menjelang Lebaran, harga sempat mencapai Rp32.000 hingga Rp33.000 per kilogram.
“Kalau MBG jalan sampai Rp30 ribu-Rp32 ribu. Menjelang Lebaran bisa Rp32 ribu sampai Rp33 ribu, stagnan di angka Rp30-an,” ujarnya.
Eeng menjelaskan penurunan harga tidak terjadi sekaligus. Dalam dua hingga tiga pekan terakhir, harga turun secara bertahap sekitar Rp1.000 hampir setiap hari hingga kini berada di angka Rp25.000 per kilogram.
“Sudah hampir dua sampai tiga minggu. Turunnya bertahap, dari Rp32 ribu, Rp31 ribu, turun Rp1.000-Rp1.000, hampir tiap hari,” katanya.
Ia menilai melimpahnya pasokan telur berawal dari tingginya harapan peternak terhadap kebutuhan program MBG.
Banyak peternak menambah populasi ayam petelur, bahkan muncul peternak baru untuk memenuhi potensi permintaan.
“Peternak punya harapan dari MBG. Ada yang tambah ayam, ada juga pemain baru karena dianggap menjanjikan. Begitu MBG berhenti, stok langsung melimpah,” ucapnya.
Akibat pasokan yang berlebih, sementara permintaan pasar sedang menurun, harga telur ikut tertekan.
Eeng memperkirakan jumlah peternak maupun populasi ayam petelur bertambah sekitar 30 persen.
“Kalau dulu sebelum ada MBG, harga paling rendah sekitar Rp26.500 sampai Rp27.000 per kilo karena pasokan dan kebutuhan seimbang. Sekarang melimpah karena peternak bertambah, kurang lebih sekitar 30 persen. Intinya sekarang stok kebanyakan,” katanya.
Selain telur ayam negeri, Eeng juga menjual berbagai jenis telur lain, mulai dari telur ayam kampung, telur bebek, telur asin hingga telur puyuh.
Ia menyebut harga telur puyuh dijual Rp10.000 per seperempat kilogram atau sekitar Rp35.000 per kilogram.
Sementara telur ayam kampung menjadi yang paling mahal dengan harga Rp3.500 per butir, sedangkan telur bebek dijual Rp3.000 per butir.
Sementara itu, warga Batununggal, Titin Suhaeti (58), menyambut baik turunnya harga telur.
Menurutnya, bahan pangan pokok semestinya tetap terjangkau oleh masyarakat.
“Ada atau tidak adanya MBG, harusnya memang bahan baku itu terjangkau oleh masyarakat. Jangan dipersulit. Harusnya pemerintah bisa menangani harga bahan pokok agar tetap terjangkau,” katanya.
