www.narrativetimes.com.ǁJawa Barat,3 Juni 2026-Tumpukan sampah di aliran Sungai Cikapundung, mulai terlihat menyangkut di Jembatan Cipurut, perbatasan Bojongsoang dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.
Berdasarkan pantauan di lokasi, berbagai jenis sampah mulai dari potongan kayu dan bambu, plastik, hingga sampah rumah tangga lainnya tersangkut di bawah Jembatan Cipurut.
Kondisi tersebut membuat warga di sekitar khawatir. Pasalnya, tumpukan sampah yang menyangkut di bawah jembatan berpotensi membuat aliran sungai tersendat hingga pada akhirnya air naik dan meluap.
Salah satu warga yang khawatir tersebut yaitu Sumarna Aminudin (43). Dirinya mengatakan tumpukan sampah tersebut mulai terlihat sejak beberapa pekan lalu, saat debit air Sungai Cikapundung meningkat.
“Ini sampah (yang menumpuk) dari dua minggu yang lalu pas air lagi naik-naiknya. Waktu itu memang sempat naik dan banjir, nah di situ sampah mulai nyangkut,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Sumarna, sampah yang menumpuk tersebut diduga merupakan kiriman dari wilayah Kota Bandung. Pasalnya, sungai itu menjadi salah satu aliran air yang berhulu dari kawasan perkotaan.
“Yang saya tahu sampah ini kiriman dari Kota Bandung. Soalnya Sungai Cikapundung alirannya dari kota juga. Ini mah sampahnya enggak terlalu bau. Soalnya isinya kebanyakan plastik dan kayu-kayu,” katnya.
Sumarna mengungkapkan, kondisi serupa bukan kali pertama terjadi. Pada kejadian sebelumnya, tumpukan sampah yang menyangkut di sungai biasanya langsung diangkut oleh dinas terkait.
“Iya, biasanya ada. Tapi sampai sekarang belum dilkukan pengangkutan. Jadi sampah menumpuk kayak gini bukan sekarang saja. Dulu juga pernah kayak gini. Tapi langsung diangkut,” ucapnya.
Dengan adanya hal tersebut warga tetap khawatir jika hujan deras kembali turun dan debit air meningkat. Sebab, tumpukan sampah tersebut berpotensi meluap ke jalan bahkan mengarah ke kawasan permukiman.
Terlebih, kata Sumarna, kawasan sekitar Jembatan Cipurut memang menjadi salah satu titik rawan banjir, terutama untuk akses Jalan Bojongsoang dan wilayah Dayeuhkolot saat curah hujan tinggi.
“Kalau airnya naik lagi, kadang sampahnya juga suka meluap ke jalan. Kalau kepengen warga segera diangkut aja. Soalnya, khawatir kalau sudah meluapnya bisa juga ke permukiman warga,” ucapnya.
Di sisi lain, terkait hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung menggapi persoalan sampah sudah menjadi hal yang serius. Sebab, dilihat dari produksi sampah dan kuota pembuangannya, sudah jomplang.
Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), produksi sampah di Kabupaten Bandung per hari bisa mencapai 1.800 ton. Sedangkan kuota untuk pembuangan ke TPA Sarimukti 280 ton per harinya.
Namun meskipun begitu, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengungkapakan bahwa pihaknya saat ini belum berencana mengajukan status darurat sampah, seperti Pemerintah Kota Bandung.
Sebab baginya ketergantungan terhadap pembuangan ke TPA, bukan jawaban jangka panjang atas persoalan sampah. Karena itu, Dadang lebih memilih memperkuat pengolahan sampah dari hulu dibanding status darurat.
“Jadi kami akan fungsikan tiap-tiap desa. Ini kan sudah kami buatkan instruksi. Mudah-mudahan ini salah satu yang bisa mengurangi sampah, tentunya residunya lebih sedikit,” ucapnya.
